Konsultan ITS: Pendidikan Digital Harus Massive

Konsultan Its: Pendidikan Digital Harus Massive

Perkembangan dunia teknologi di Indonesia belum merata. Demikian juga pemanfaatannya dalam dunia pendidikan, sehingga pendidikan digital masih bersifat komplementer hanya di Indonesia.

Demikian disampaikan konsultan Institut Teknologi Sibuloh Noember (ITS) Muhammad Ashari. Teknologi sangat tidak setara, katanya, dan keragaman serta perbedaannya sangat besar.

“Tidak masalah, komunikasi, listrik adalah kebutuhan pokok bagi banyak saudara kita

Membahas perspektif Trakindo, Achari mengatakan: Masa depan pendidikan teknologi di Indonesia pasca pandemi Covid-19.

BACA JUGA: Kampus Swasta Ini Terbaik Indonesia Versi Asian University Ranking 2021

Dia juga berbicara tentang penggunaan teknologi untuk pendidikan, terutama di tingkat akar rumput di daerah terpencil. Menurutnya, penggunaan teknologi semakin sulit karena berbagai kendala.

‘Kita masih belum bisa menjadi kebutuhan di Indonesia’

(Menggunakan teknologi).

Infrastruktur yang tidak merata memungkinkan dunia pendidikan di Indonesia dikecewakan oleh orang lain. Oleh karena itu, metode tradisional seperti tatap muka masih sering digunakan dalam sistem pembelajaran di rumah.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan ide di email Anda.
email pendaftaran

“Karena infrastruktur di Indonesia masih belum merata, pendidikan digital akan menjadi alternatif, tetapi pendidikan tradisional akan tetap eksis karena infrastrukturnya belum merata,” ujarnya.

Baca juga: ITS Peringkat 3 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia

Namun, untuk daerah perkotaan, pembelajaran penuh dimungkinkan

Melalui pemanfaatan perkembangan teknologi yang pesat.

“Di kota yang infrastrukturnya cukup lengkap, ini adalah suatu keharusan. Mereka yang tinggal di kota kehilangan gaya ketika menggunakan ponsel dan kehabisan baterai, tetapi anak-anak kita yang menggunakan 3T bahkan tidak memikirkannya, ” kata Achar.

Dikatakannya, pemanfaatan teknologi dalam industri merupakan salah satu hal di masa depan. Penggunaan teknologi di berbagai industri juga sudah mulai berkembang.

Ia mengatakan, pelaku industri akan memasuki ruang digital jika berdampak pada efisiensi operasional perusahaan. Alasannya, meringankan beban perusahaan.

Pengusaha melihat ketika mereka terlibat secara ekonomi, jadi mengapa tidak. Kalau mau pasang smart bot tidak masalah asal ada infrastruktur, 5G dibutuhkan, listrik dan regulasi memungkinkan.”

BACA JUGA: Beasiswa Pascasarjana Australia Terbaik Di Kampus, Gratis Biaya & Perumahan

Selain itu, Achari menjelaskan bahwa masalah dunia industri tidak hanya diselesaikan melalui penggunaan teknologi. Namun, permasalahan yang ditemukan di dunia industri seringkali terkendala oleh regulasi.

Ia mengatakan, sistem ini biasanya berjalan di Indonesia, namun regulasinya belum ada. “Teknologi sedang jalan tapi regulasi belum siap dan yang terpenting SDM, tidak ada yang mengelola, tapi ini kebutuhan yang akan datang dan akan datang,” ujarnya.

Saat ini ada perusahaan dengan model industri yang menggunakan teknologi secara ekstensif. Misalnya Gojek, Tokopedia, Bukalapak hingga Shopee, Telkom, Garuda, Pertamina hingga Trakindo.

Baca juga: Kenapa Bisa Belajar Dunia Teknik? Teknik Sipil!

Semua perusahaan ini, baru dan lama, semuanya pindah ke ekonomi digital, yang berarti bahwa konfrontasi antara pembeli dan penjual tidak pindah ke pasar dan mal, melainkan ke e-commerce. Pembayaran tidak lagi secara tunai, tetapi melalui e-mail – pengiriman juga menggunakan logistik elektronik. Ini kira-kira keadaan industri di Indonesia.”

Lihat juga:

pcpm35rekrutmenbi.id
indi4.id
connectindonesia.id

You May Also Like

Avatar Of Omar Dzaki Khawarizmi

About the Author: Omar Dzaki Khawarizmi

Saya adalah seorang yang hobby menulis dan membuat informasi yang berkaitan tentang buah-buahan, karena saya suka dan memiliki kebun mangga.